Sadarlah "KEMATIAN" Menunggumu

Saturday

Sadarlah,Wahai orang yang tertipu!
Mengapa kamu masih riang bermain,
terlena dengan angan-angan.Padahal ajal didepan matamu!Bukankah kamu mengetahui bahwa
ambisi manusia adalah lautan luas takbertepi.Bahteranya adalah dunia.Maka berhati-hatilah jangan sampai karam!Yakinlah! Bahwa kematian pasti menjengukmu bersama segala kepahitannya.Ingatlah detik-detik itu,ketika kamu memberikan
wasiat,sedangkan anak-anak yang bakal menjadi yatim Dan ibunya yang akan kehilangan suami tercinta,menangis pilu berlinang air mata.
Ia tenggelam dalam lautan Jasadmu dikebumikan
kesedihan,seraya memukul-mukul wajahnya.Disaksikan para lelaki,padahal sebelumnya ia adalah mutiara yang tersimpan rapi.
Kemudian setelah itu,dibawalah kain kafan
kepadamu.Akhirnya! Diiringi isak tangis
dan derai air mata,Jasadmu dikebumikan.

(Alghozali)
Read More >>

PUISI SUFISME KARYA "JALALUDIN RUMI"




APABILA TUHAN MEMBUKAKAN BAGIMU JALAN UNTUK MAKRIFAT, MAKA JANGAN HIRAUKAN TENTANG AMALMU YANG MASIH SEDIKIT KERANA ALLAH S.W.T TIDAK MEMBUKA JALAN TADI MELAINKAN DIA BERKEHENDAK MEMPERKENALKAN DIRI-NYA KEPADA KAMU.

ALQUR'AN TERSURAT DAN TERSIRAT
Janganlah hanya faham sebatas arti kata-kata yang tertulis dalam Al-Quran kerna dibalik yang tertulis terdapat arti yang tersembunyi di balik arti lapis kedua ada lagi arti baru, yang menyilaukan fikiran dan pandangan.
Arti keempat, kecuali rasul, tak ada yang pernah memahami kebesaran Tuhan, yang tiada tanding dalam Keghaiban, hitunglah arti tersembunyi itu sampai tujuh. kisah bermakna yang mengagumkan dari langit.
Wahai kawan, janganlah hanya memandang jilid Al-Quran. Bagi setan, manusia hanyalah sepotong daging. Bagaikan manusialah Al-Quran itu.Bentuk lahir diluar dengan ruh tersembunyi didalamnya.

~JALALUDIN RUMI~

SATRIOEDAN  berkata:tentang maha karya "jalaludin rumi" dari syair diatas dari kata-kata ~Janganlah hanya faham sebatas arti kata-kata yang tertulis dalam Al-Quran ~dalam tingkatan islam ada 4 .syariat,tariqat,hakikat,makrifat. Dan ke4 itu di golongkan menjadi 2 bagian yaitu:
    • syariat dan thoriqot }lahir
    • hakikat dan makrifat}batin.

    • kalau kita memahami makna ALQUR'AN dari segi makna lahirnya saja tanpa ada rasa keinginan untuk mencari arti di balik arti yang tertulis. maka kita adalah termasuk kategori orang yang dimaksud dalam puisinya jalaludin rumi diatas,yaitu mengerti sebatas makna lahir saja.tak kan pernah tau dari sisi makna tersembunyinya. Sedangkan alqur'an disetiap ayat ayat sucinya menyimpan makna yang tersembunyi di balik makna yang tertulis.jika ingin tau makna yang tersembunyi berfikir dan fahamilah dari makna lahirnya.maka pasti akan terbuka makna yang tersembunyi.
      pemahaman,pengamalan,penerapan perintah tuhan secara bathin dengan "MENAFIKAN" sifat kita sebagai manusia,dan "MENGISBATKAN"semua adalah AF'ALULLOH. bahwa apa yang wujud didunia itu adalah tampilannya "LAMAUJUDAN ILLALLOH"
      itulah hakikatnya yang di maksud dengan makna yang tersembunyi, Misalnya jika kita ingin tau isi di balik kotak yang terkunci jalan satu2nya adalah mencari kuncinya,membuka kotaknya maka kita pasti akan tau apa yang ada di dalam kotak itu.
      Itulah salah satu contoh yang simpel. Dari petikan puisi di atas
      Komen Ala:satrio edan.

      TIPU DAYA DUNIA
      Dunia memiliki awan dan hujan yang tersembunyi, tetapi dalam jenis yang berbeda. Langit dan cahaya mataharinya, juga berbeda. Ini nampak nyata, hanya untuk orang yang berbudi halus – mereka yang tidak tertipu oleh kesempurnaan dunia yang semu.

      ALASAN DUNIA DI CIPTAKAN
      Alasan dunia ini diciptakan adalah untuk mengungkapkan apa yang harus diketahui. Dia menciptakan apa yang diketahuiNya tanpa kelahiran dan rasa sakit, engkau tidak dapat bermalas-malasan barang sekejap, sampai engkau bisa memukan hakikat dari dirimu. Perjuangan dan kerja yang kau lakukan dengan tekun adalah jalan menuju pengungkapan hakikat diri. Tubuhmu adalah poros yang terus berputar, Karena otakmu terus menarik benang. Kedua dunia berada dalam peristiwa kelahiran dan rasa sakitnya sang ibu di sebabkan kelahiran. Sebabnya adalah ibu, akibatnya adalah anak. Turun temurun manuisa mengulanginya, Hanya mata yang dicerahkan melihat rantai peristiwa ini.

      ~ Jalaluddin Rumi~
Read More >>

SYAIR SUFI"suluk dalam perahu"

Wednesday

Inilah gerangan suatu madah mengarangkan syair terlalu indah,membetuli jalan tempat berpindah,
di sanalah i’tikat diperbetuli sudah Wahai muda kenali dirimu,
ialah perahu tamsil tubuhmu,tiadalah berapa lama hidupmu,ke akhirat jua kekal diammu.. Hai muda arif-budiman,hasilkan kemudi dengan pedoman,alat perahumu jua kerjakan,itulah jalan membetuli insan.
Perteguh jua alat perahumu,hasilkan bekal air dan kayu,dayung pengayuh taruh di situ,supaya laju perahumu itu Sudahlah hasil kayu dan ayar,
angkatlah pula sauh dan layar,pada beras bekal jantanlah taksir,niscaya sempurna jalan yang kabir.
Perteguh jua alat perahumu,muaranya sempit tempatmu lalu,banyaklah di sana ikan dan hiu,menanti perahumu lalu dari situ.
Muaranya dalam, ikanpun banyak,di sanalah perahu karam dan rusak,karangnya tajam seperti tombakke atas pasir kamu tersesak. Ketahui olehmu hai anak dagangriaknya rencam ombaknya karangikanpun banyak datang menyaranghendak membawa ke tengah sawang.
Muaranya itu terlalu sempit,di manakan lalu sampan dan rakitjikalau ada pedoman dikapit,sempurnalah jalan terlalu ba’id.
Baiklah perahu engkau perteguh,hasilkan pendapat dengan tali sauh,anginnya keras ombaknya cabuh,pulaunya jauh tempat berlabuh.
Lengkapkan pendarat dan tali sauh,derasmu banyak bertemu musuh,selebu rencam ombaknya cabuh,La ilaha illallahu akan tali yang teguh.
Barang siapa bergantung di situ,teduhlah selebu yang rencam itupedoman betuli perahumu laju,selamat engkau ke pulau itu.
La ilaha illallahu jua yang engkau ikut,di laut keras dan topan ribut,hiu dan paus di belakang menurut,pertetaplah kemudi jangan terkejut.
Laut Silan terlalu dalam,di sanalah perahu rusak dan karam,sungguhpun banyak di sanamenyelam,larang mendapat permata nilam.
Laut Silan wahid al kahhar,riaknya rencam ombaknya besar,anginnya songsongan membeloksengkarperbaik kemudi jangan berkisar.
Itulah laut yang maha indah,ke sanalah kita semuanya berpindah,hasilkan bekal kayu dan juadahselamatlah engkau sempurnamusyahadah. Silan itu ombaknya kisah,banyaklah akan ke sana berpindah,topan dan ribut terlalu ‘azamah, perbetuli pedoman jangan berubah.
Laut Kulzum terlalu dalam,ombaknya muhit pada sekalian alambanyaklah di sana rusak dan karam,perbaiki na ’am, siang dan malam. Ingati sungguh siang dan malam,lautnya deras bertambah dalam,anginpun keras, ombaknya rencam,ingati perahu jangan tenggelam.
Jikalau engkau ingati sungguh,angin yang keras menjadi teduhtambahan selalu tetap yang cabuhselamat engkau ke pulau itu berlabuh. Sampailah ahad dengan masanya,datanglah angin dengan paksanya,belajar perahu sidang budimannya,berlayar itu dengan kelengkapannya. Wujud Allah nama perahunya,ilmu Allah akan [dayungnya]iman Allah nama kemudinya,“yakin akan Allah ” nama pawangnya. “Taharat dan istinja’” nama lantainya, “kufur dan masiat ” air ruangnya, tawakkul akan Allah jurubatunyatauhid itu akan sauhnya.
Salat akan nabi tali bubutannya,istigfar Allah akan layarnya,“Allahu Akbar ” nama anginnya, subhan Allah akan lajunya. “Wallahu a’lam” nama rantaunya, “iradat Allah ” nama bandarnya, “kudrat Allah ” nama labuhannya, “surga jannat an naim nama negerinya. Karangan ini suatu madah,mengarangkan syair tempatberpindah,di dalam dunia janganlah tam’ah, di dalam kubur berkhalwat sudah.
Kenali dirimu di dalam kubur,badan seorang hanya tersungkurdengan siapa lawan bertutur?di balik papan badan terhancur.
Di dalam dunia banyaklah mamang,ke akhirat jua tempatmu pulang,janganlah disusahi emas dan uang,itulah membawa badan terbuang.
Tuntuti ilmu jangan kepalang,di dalam kubur terbaring seorang,Munkar wa Nakir ke sana datang,menanyakan jikalau ada engkausembahyang. Tongkatnya lekat tiada terhisab,badanmu remuk siksa dan azab,akalmu itu hilang dan lenyap,(baris ini tidak terbaca) Munkar wa Nakir bukan kepalang,suaranya merdu bertambah garang,tongkatnya besar terlalu panjang,cabuknya banyak tiada terbilang. Kenali dirimu, hai anak dagang!di balik papan tidur telentang,kelam dan dingin bukan kepalang,dengan siapa lawan berbincang? La ilaha illallahu itulah firman,Tuhan itulah pergantungan alamsekalian,iman tersurat pada hati insap,siang dan malam jangan dilalaikan. La ilaha illallahu itu terlalu nyata,tauhid ma’rifat semata-mata, memandang yang gaib semuanyarata,lenyapkan ke sana sekalian kita. La ilaha illallahu itu janganlahkaupermudah-mudah,sekalian makhluk ke sana berpindah,da’im dan ka ’im jangan berubah, khalak di sana dengan La ilahaillallahu. La ilaha illallahu itu jangankaulalaikan,siang dan malam jangan kausunyikan,selama hidup juga engkau pakaikan,Allah dan rasul juga yang menyampaikan. La ilaha illallahu itu kata yang teguh,memadamkan cahaya sekalian rusuh,jin dan syaitan sekalian musuh,hendak membawa dia bersungguh-sungguh. La ilaha illallahu itu kesudahan kata,tauhid ma’rifat semata-mata. hapuskan hendak sekalian perkara,hamba dan Tuhan tiada berbeda. La ilaha illallahu itu tempat mengintai,medan yang kadim tempat berdamai,wujud Allah terlalu bitai,siang dan malam jangan bercerai. La ilaha illallahu itu tempatmusyahadah,menyatakan tauhid jangan berubah,sempurnalah jalan iman yang mudah,pertemuan Tuhan terlalu susah.
~ Hamzah Fansuri
Read More >>

SAIR SUFI"ke esaanmu"

Tuesday

Diriku telah hilang ghaib di dalam gua yang dalam gelap gulita puasku mencarinya namun tidak ku temui, sesekali gelibatnya melintasi di hadapan ku,
bila aku coba memegang dia kembali menghalang. Wahai Yang Maha Melihat lihatlah betapa kasih aku kepada diriku bila Engkau memisahkan daku daripadanya masih juga daku mencari-carinya.
Wahai Pelindung diriku selamatkan daku daripada fitnah diriku sendiri janganlah Engkau lepaskan daku kepada sesuatu selain-Mu walau sekelip mata jua,
ikatkan daku dengan rantai ubudiah sepanjang hayatku agar Engkau sentiasa esa tiada sesuatu menggangu keesaan- Mu.
Read More >>

SYAIR SUFI(keraguan)

Engkau ajukan pertanyaan: mengapa fikiranmu bersimpang siur mengapa dukacita tidak terlepas daripadamu.
Wahai Pelindung diriku apabila aku mendatangi Mu dengan diriku aku kecundang fikiranku tidak bisa menjurus jiwaku tidak bias tenang keraguan tidak terpisah dari diriku. Pengalaman ini membuatku mengerti mengenali Mu bukanlah dengan diriku pengenalan Mu adalah dengan Diri Mu. Cahaya Mu yang menyatukan segala fikiran cahaya Mu yang membakar segala kerisauan. Daku bukakan hatiku sambil memohon: wahai ar-Rahman! penuhilah hatiku dengan cahaya Mu tanpa cahaya Mu mana mungkin daku melihat Mu.
Read More >>
Prev Home
*

traffic

Kembali ke ATAS